Sabtu, 04 Februari 2017

TOKOH PENDIDIKAN ISLAM
Materi ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah ilmu pendidikan


Disusun oleh :
Nama                                                                                      NPM
Fatma Anindaya                                                       15.0401.0051

PROGAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAGELANG
2015/2016
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pendidikan merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia. Pendidikan (terutama islam) dengan berbagai coraknya, berorientasi memberikan bekal kepada manusia untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, semestinya pendidikan islam selalu diperbaharui konsepnya dalam rangka merespon perkembangan zaman yang selalu dinamis agar peserta didik dalam pendidikan islam tidak hanya berorientasi pada kebahagiaan hidup di dunia juga bisa diraih.yang amat mendesak
Dalam kenyataannya, dikalangan dunia islam telah muncul berbagai isu mengenai krisis pendidikan dan problem lain yang amat mendesak untuk dipecahkan. Inilah yang menuntut agar selalu dilakukan pembaharuan (modernisasi) dalam hal pendidikan dan segala hal yang terkait dengan kehidupan umat islam. Menyikapi persoalan diatas telah banyak melahirkan sejumlah tokoh dari berbagai pelosok dunia islam seperti : Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan, Abu ‘Ali Al-Husyn Abdullah, Imam AlGhazali, Ibnu Khaldun dan Hasan Langgulung.









B.     Tokoh Pendidikan Islam di Indonesia
1.      Hasyim Asy’ari (1871-1947)
Menurut Zuhairi (2013 : 202-203)
         Hasyim Asy’ari dilahirkan pada tanggal 14 Februari tahun 1981 M, di Jombang Jawa Timur, mula-mula ia belajar agama islam pada ayahnya. Kemudian ia belajar di Pondok Pesantren Purbalinggo, kemudian pindah diplangitan, semarang, Madura dan lain-lain. Saat ia belajar di Siwalan Panji Sidoarjo pada 1891. Kyai Ya’kub mengajarnya dan tertarik dengan tingkah lakunya yang baik dan sopan santunnya yang halus. Sehingga ingin mengambilnya sebagai menantu dan akhirnya dinikahkan dengan putrinya yang bernama Khadijah (1892). Tak lama kemudian mereka pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji dan bermukim selama satu tahun, sedang istrinya meninggal di Mekkah.
         Pada kunjungan kedua ke Mekkah ia bermukim selama delapan tahun untuk menuntut ilmu agama islam dan bahasa arab. Setelah kepulanganya dari Mekkah ia membuka Pesantren untuk mengamalkan dan mengembangkan ilmunya. Dengan nama Pesantren Tebuireng di Jombang pada 26 Rabi’ul Awal tahun 1899 M. Pembaharuan Tebuireng yang pertama adalah dengan mendirikan Madrasah Salafiyah pada 1919 M. Pada tahun 1929 Hasyim Asy’ari menunjuk KH Ilyas menjadi kepala Madrasah Salafiyah. Dengan demikian KH Ilyas dapat melaksanakan hasratnya untuk memperbaharui keadaan dalam Pesantren Tebuireng menurut cita-cita pendirinya KH Hasyim Asy’ari.


Dibawah pimpinan KH. Ilyas dimasukkan pengetahuan umum ke dalam Madrasah Salfiyah yaitu :
1.      Membaca dan menulis huruf latin.
2.      Mempelajari bahasa Indonesia.
3.      Mempelajari ilmu bumi dan sejarah Indonesia.
4.      Mempalajari ilmu berhitung.
         Semua ini diajarkan dengan memakai buku-buku huruf latin. Sejak saat itu mulailah surat-surat kabar. Masuk kedalam pesantren mulai dikenal dan dibaca oleh Kyai dan para pelajar. Begitu pula majalah dan buku-buku yang berisi pengetahuan umum yang tertulis dengan huruf Latin dalam Bahasa Indonesia. Pada zaman kemajuan sekarang Tebuireng tidak mau ketinggalan. Disamping pengajian secara lama di Pesantren Tebuireng terdapat Madrasah Modern, sekolah agama yang teratur menurut cara modern sekarang. Madrasah itu memilikai gedung-gedung yang indah, berkelas, bermeja, berbangku dan berpapan tulis. Disana ada Madrasah bagian rendah, bagian menengah, bagian atas dan bagian tertinggi. Dan murud-muridnya berasal dari seluruh pelosok Indonesia. Bahasa pengantar dipakai Bahasa Indonesia dan untuk beberapa pengajian tertentu dipakai Bahasa Arab. Bahasa asing lainnya juga diajarkan dimadrasah ini bersama pengetahuan umum lainnya.
2.      KH. Ahmad Dahlan (1869-1923)
Menurut Zuhairini (2013:199)
         Ahmad Dahlan dilahirkan di Yogyakarta pada tahun 1869 M dengan nama kecilnya Muhammad Darwis, purta dari KH. Abu Bakar Bin Kyai Sulaiman, khatib di Masjid besar. Muhammad Darwis adalah putra ke empat dari tujuh bersaudarayang lima diantaranya perempuan kecuali adik bungsunya. Setelah beliau menamatkan pendidikan dasarnya disuatu Madrasah dalam bidang Nahwu, Fiqih, dan Tafsir di Yogyakarta, beliau pergi ke Mekkah pada 1890 dan beliau menuntut ilmu disana selama satu tahun. Sekitar tahun 1903 beliau mengunjungi kembali ke Mekkah dan kemudian menetap selama dua tahun. Sepulang dari Mekkah tak lama kemudian menikah dengan Siti Walidah putri Kyai Penghulu Haji Fadhil. Semenjak ayahnya wafat, ia menggantikan kedudukan ayah dan diangkat oleh Sri Sultan menjadi khatib masjid besar Kauman Yogyakarta.
         Semenjak ia naik haji yang kedua kalinay (1903) ia mendapat sambutan Kyai dari masyarakatnya. Semenjak iti ia terkenal dengan nama Kyai Haji Ahmad Dahlan. Ia adalah seorang alim yang luas ilmunya dan tiada jemu-jemu ia selalu menambah ilmu dan pengetahuannya. Cita-cita KH Ahmad Dhlan sebagai seorang ulama’ adalah tegas ialah hendak memperbaiki masyarakat Indonesia berlandaskan citc-cita agama islam.
         Usaha-usahanya ditujukan hidup beragama. Keyakinan beliau adalah bahwa untuk membangun masyarakat bangsa haruslah terlebih dahulu dibangun semangat bangsa. Muhammadiyah menekankan usahanya kepada usahanya kepada perbaikan hidup beragama dengan amal-amal pendidikan dan social. Saat beliau sakit menjelang wafat beliau beristirahat di Tosari. Dalam peristirahatan itu beliau tetap bekerja keras, hingga istri beliau memperingati berkali-kali untuk istirahat, namun beliau menjawab “ Saya mesti bekerja keras untuk meletakkan batu pertama dari amal yang besar ini” kalau saya hentikan karena sakitku tidak ada nanti yang sanggup meletakkan dasar itu. Dan tak lama kemudian KH Ahmad Dahlan pulang ke rahmatullah pada tahun 1923 M pada tanggal 23 Februari dalam usia 55 tahun dengan meninggalkan sebuah organisasi islam yang cukup besar dan disegani karena ketegarannya.
3.      Abu ‘Ali Al-Husyn Abdullah
         Nama lengkapnya adalah Abu ‘Ali Al-Husyn Abdullah sebagian ada yang mengatakan bahwa namanya di ambil dari bahasa latin dan ada yang beranggapan bahwa namanya berasal dari bahasa arab. Abu ‘Ali Al-Husyn Abdullah sering dipanggil Ibnu Sina dan dalam sejarahnya ia dikenal sebagai intelektual muslim yang banyak mendapat gelar. Ia lahir pada tahun 370 H bertepatan pada tahun 980 M di Afshana, suatu daerah yang dekat Bukhara, dikawasan Asia Tengah. Ayahnya bernana Abdullah dari Belkh, suatu kota termasyhur dikalangan orang-orang Yunanai. Ibnu Sina berasal dari Afshana yang termasuk wilayah Afganistan. Namun, ada yang menyebut ia sebagai kebangsaan Persia, karena abad ke-10 M, wilayah Afganistani termasuk daerah Persia. Ia sebagai ilmuan yang terkenal dan didukung oleh tempat kelahirannya sebagai kota kebudayaan, dan orang tuanya yang terkenal sebagai pejabat tinggi dan juga karena kecerdasan yang luar biasa.
         Sejarah mencatat, bahwa Ibnu Sina melalui pendidikannya pada usia lima tahun di kota kelahirannya Bukhara. Pengetahuan yang pertama ia pelajari ialah membaca Al-Qur’an. Setelah itu ia melanjutkan dengan mempelajari ilmu-ilmu agama islam seperti tafsir, fiqih, uahuludddin dan laian-lain. Dengan ketekunan dan kecerdasannya ia berhasil menghafal Al-Qur’an dan menguasai berbagai cabang ilmu keislaman pada usia yang belum genap sepuluh tahun. Ibnu Sina banyak kaitannya dengan pendidikan, barang kali menyangkut pemikirannya tentang falsafat ilmu. Menurut Ibnu Sina terbagi menjadi 2 yaitu : ilmu yang kekel dan ilmu yang tak kekal. Ilmu yang kekal dari peranannya sebagai alat tapat dibagi menjadi ilmu yang praktis dan ilmu yang teoristis. Ibnu Sina juga belajar berbagai pendidikan dengan gurunya seperti matematika (Mahmud al-Massah), ahli fiqih (Abi Muhammad Ismail Husyaini), ahli manthiq dan falsafah (Abi Abdillah an-Natili), dan secara otodidiak Ibnu Sina belajar ilmu kedokteran secara mendalam hingga menjadi seornag diokter yang termasyhur pada zamannya. Hal ini didukung oalh kesungguhan melakukan penelitian dan praktek pengobatan. Para penerjemah menduga Ibnu Sina belajar ilmu kedokteran dari ‘Ali Abi Sahal al-Masity dan Anbi Mnsyur al-Hasan Ibn Nuh al-Qomary. Dan karya Ibnu Sina dalam didang kedokteran antara lain Al-Qanun fi Al-Thibb. Dalam bidang falsafah As-Syifa dan An-Najab. Dalam bidang fisika Fi Asam al-‘alum al-‘aqliyah. Di bidang logika Al-isaquji dan dibidang bahasa Arab Lisan Al-‘Arab.

4.      Imam AlGhazali
         Imam AlGhazali nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi asy-Syafi’i lahir tahun 450 H bersamaan dengan 1058 M di Bandat Thus propinsi Khurasan, Persia (Iran), dan wafat pada tahun 1111 di Thus. Ia adalah seorang filosof dan teolog muslim Persia yang dikenal sebagai Algazel didunia Barat abad pertengahan. Beliau berasal dari keluarga miskain.
         Tetapai ayahnya mempunyai cita-cita yang tinggi yaitu iangin anaknya menjadi ornag yang alim dan sholeh.
Al-Ghazali memulai pendidikannya diwilayah kelahirannya, dengan mempelajari dasar-dasar pengetahuan. Selanjutnya ia perfi ke Nisyafur untuk berguru kepada Imam al-Haramain Abi AL-Ma’ali al-Juwainy seornag yang bermazhab Syafi’I yanag pada saat itu menjadi guru besar di Nasyafur. Diantara mata pelajaran yang telah ia pelajarai adalah ilmu teologi, hokum islam, falsafat, logika, sufisme, dan ilmu-ilmu alam. Ilmu iamg dipelajari inilah yang kemudian mempengaruhi sikap dan pandanagn ilmiahnya dikemudian hari hal ini terlihat antaranya dari karya tulisannya yang dibuat dalam berbagai  bidang dalam ilmu pengetahuan diantaranya Ghayah Al Maram Fi Ilm Kalam, Ihya’ Ulum Al Din, Al-Musytasyfa’, Maqasidal Falasifah dan Thafut Al- Falasifah. Gelar yang disandang Al-Ghazali yaitu Hujjatul Islam, Syaikh Al Sufiyyin dan Imam Al Murabin. Imam Al-Ghazali meninggal pada 4 Jumadil Akhir tahu 505 H bersamaan dengan 1111 M di Thus dan jenazah dikebumikan di tempat kelahirannya.

5.      Ibnu Khaldun
         Ibnu Khaldun adalah keluarga dari polotisi, intelektual dan aristocarat yang lahir pada 7 Mei 1332 di Tunisi. Oleh ayahnya diberi nama Abdur Rahman Abu Zayd ibn Muhammad Ibn Khaldun. Ia mendapat pendidikan langsung dari ayahnya, sejak kecil ia mempelajari tajwid, menghafal Al-Qur’an dan fasih dalam qira’at al-sab’ah, disamping dengan ayahnya ia juga mempelajari tafsir, hadits fiqih, gramatika bahasa arab, ilmu mantiq dan falsafat dengan sejumlah ulama’ Andalusia dan Tusinia. Pendidikan formalnya dilaluinya sampai pada usia 17 tahun, dalam usia yang masih relative muda ini ia telah mampu menguasai beberapa disiplin ilmu klasik, termasuk ‘ulum ‘aqliyah (ilmu-ilmu filsafat, tasawuf dan menafsirkan). Disamping itu Ibnu Khaldun juga tertarik untuk mempelajari ilmu politik, sejarah, ekonomi geografi dan lain-lain.
         Sebenarnya Ibnu Khaldun sudah memulai karirnya dalam bidang tulis menulis semenjak masa mudanya. Saat ia masih menuntut ilmu pengetahuan dan kemudian dilanjutkan ketika ia aktif dalam dunia politik dan pemerintahan. Adapun hasil karya-karyanya yang terkenal diantaranya yaitu : Kitab muqaddimah buku pertama dari kitab al-‘ibar yang terdiri dari bagian pengantar. Buku pengantar yang panjanag inilah yang merupakan inti dari seluruh persoalan dan yang mengangkat namanya Ibnu Khaldun begitu harum.

6.      Hasan Langgulung
         Hasan Langgulung lahir pada tanggal 16 Oktober 1934 di Rappang Sulawesi Selatan. Setelah menyelesaikan pendidikan sekolah menengah ia melanjutkan pendidikan ke Bahasa Inggris di Ujung Pandang dan mendapat gelar  M.A. dalam bidang psikologi dan mental Hygiene di Ein University Kiro pada tahun 1967. Sebagai puncak studinya ia berhasil menyelesaikan program Doktor pada University of Georgia Amerika Serikat pada tahun 1971, dengan judul Disertasi A. Cross Cultural Study of The Child Coneption of Situational Causality in India, Westem, Samao, Mexico and The United States. Ia adalah salah seorang pemikir Muslim Asia Tenggara yang banyak mencurahkan perhatiannya pada Islamisasi Ilmu Pengetahuan, terutama pada bidang pendidikan dan psikologi dan beliau berupaya memadukan pemikiran-pemikiran barat modern dengan pemikiran Islam.




BAB II
PENUTUP

         Demikianlah tugas ini saya persembahkan. Harapan saya gengan adanya tulisan ini bias menjadikan kita untuk lebih menyadari bahwa agama islam memiliki khazanah keilmuan yang sangat dalam untuk mengembangkan potensi yang ada di dalam untuk mengembangkan potensi yang ada di alam dan merupakan langkah awal untuk membuka cakrawala keilmuan kita. Serta dengan harapan dapat bermanfaat dan bias difahami oleh pembaca. Apabila ada kekurangan dalam penyusunan tugas ini saya mohon maaf yang sebesarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar